JAKARTAPEDIA.co.id | JAKSEL – Di sudut Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sebuah fasilitas baru berdiri dengan ambisi besar: mengubah masalah sampah menjadi energi dan peluang. Kamis (27/11/2025), Kementerian Lingkungan Hidup bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meresmikan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu berkonsep reduce, reuse, recycle (TPS3R) Sinergi Bersih Lenteng Agung, yang diharapkan menjadi tonggak baru pengurangan sampah menuju Indonesia Bebas Sampah 2029.
TPS3R ini memiliki kemampuan mengolah 30 hingga 40 ton sampah per hari, melayani lima kelurahan di sekitarnya. Namun menurut Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi, kapasitas tersebut baru langkah awal.
“Ini baru seperlima kebutuhan. Ke depannya, kita harus membangun setidaknya lima lagi fasilitas serupa,” ujar Dudi saat peresmian.
Baginya, isu sampah di Jakarta bukan lagi sebatas persoalan teknis. Jumlah timbunan sampah yang terus meningkat kini memberi tekanan besar pada Tempat Pembuangan Akhir Bantargebang yang kapasitasnya semakin terbatas. Karena itu, solusi harus lahir bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Kolaborasi Pemerintah–Swasta sebagai Model Baru Pendanaan Lingkungan
Pembangunan TPS3R Lenteng Agung menjadi contoh penerapan pembiayaan kreatif. Proyek ini merupakan kerja sama antara Pemprov DKI Jakarta, Nestlé Indonesia, dan World Wide Fund for Nature (WWF).
Menurut Dudi, skema ini tidak hanya meringankan beban APBD, tetapi juga membuka model baru dalam penyediaan layanan publik modern, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
“Kami berharap fasilitas ini menjadi pemantik agar lebih banyak pihak bergerak bersama dalam percepatan program Indonesia Bebas Sampah 2029,” tambahnya.
Dari Sampah Menjadi Energi
Tidak sekadar memilah dan mencacah, TPS3R Lenteng Agung juga menghasilkan Refuse Derived Fuel (RDF) — bahan bakar alternatif yang bisa menggantikan batu bara dan dimanfaatkan industri semen.
Dengan luas area 1.800 meter persegi, fasilitas ini ditargetkan mampu mengurangi aliran sampah ke TPST Bantargebang hingga 80 persen.
Sampah yang masuk akan melalui proses pemilahan, pencacahan, kemudian dikemas agar dapat didistribusikan ke industri yang membutuhkan bahan bakar alternatif tersebut.
Dampak bagi Masyarakat
Lebih dari sekadar fasilitas pengolahan, TPS3R diharapkan membuka peluang pekerjaan baru dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah.
Pola pikir tersebut menjadi kunci keberhasilan Jakarta dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.
Harapan pun mengalir seiring resminya fasilitas ini. Bagi banyak pihak, TPS3R bukan hanya ruang pengolahan sampah — tetapi simbol transformasi, bahwa sampah bukan lagi masalah, melainkan sumber daya. (rudi/ist)





