LRT Jakarta Bidik Kenaikan Laba Bersih Hingga 67 Persen pada 2026

oleh -

JAKARTAPEDIA.co.id – PT LRT Jakarta menargetkan lonjakan laba bersih hingga 67 persen pada tahun 2026, seiring rencana beroperasinya jalur baru Pegangsaan Dua–Manggarai yang saat ini sedang dalam tahap persiapan konstruksi.

Direktur Utama PT LRT Jakarta, Roberto Akyuwen, mengatakan peningkatan tersebut akan ditopang oleh dua strategi utama: pengurangan ketergantungan pada subsidi tiket dan optimalisasi pendapatan non-tiket.

“Kami berharap dengan penambahan rute ke Manggarai dan rute-rute berikutnya, ketergantungan terhadap subsidi bisa dikurangi secara signifikan,” ujar Roberto di Stasiun Pegangsaan Dua, Kamis (27/11/2025).

Saat ini, hampir seluruh pendapatan LRT Jakarta masih bergantung pada subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta. Berdasarkan data perusahaan, sebanyak 94 persen pemasukan berasal dari subsidi, sementara kontribusi tiket hanya sekitar 2 persen dengan tarif flat Rp5.000, dan 4 persen sisanya berasal dari pendapatan non-tiket.

Roberto menegaskan, pada 2025 perusahaan menargetkan peningkatan signifikan pendapatan non-tiket sebelum jalur Manggarai mulai beroperasi. Upaya yang dilakukan antara lain pemanfaatan aset perusahaan untuk iklan dan kerja sama komersial.

“Saat ini kereta sudah dipasangi iklan, selanjutnya stasiun juga akan disiapkan sebagai ruang pemasangan iklan, baik bentuk fisik maupun digital,” katanya.

Selain sektor periklanan, LRT Jakarta juga mengembangkan sejumlah inovasi pemanfaatan lahan dan aset. Area depo di Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, telah digunakan sebagai kawasan pertanian urban. Ke depan, perusahaan berencana membangun delapan lapangan padel berstandar internasional serta area komersial lainnya.

“Lahan yang masih tersisa sedang kami kaji untuk kerja sama investasi, baik untuk kuliner, olahraga maupun aktivitas lainnya,” kata Roberto.

Meski perpanjangan rute diprediksi meningkatkan biaya subsidi secara total karena bertambahnya volume penumpang, Roberto menyebut besaran subsidi per penumpang akan menurun seiring dengan peningkatan pendapatan dari sektor non-tiket dan efisiensi operasional.

“Kami optimistis kontribusi pendapatan non-tiket akan semakin kuat dan bisnis LRT Jakarta menjadi lebih berkelanjutan,” ujarnya. (ist/jek)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *