Masih kata Wandik, cara Gus Dur itulah yang harus dicontoh oleh pemerintah pusat saat ini, bukan dengan pengerahan pasukan bersenjata, janji muluk dan “nabi palsu”. “Yang dilakukan Gus Dur itulah definisi dialog yang benar untuk meredam konflik di Papua. Pahami keinginan orang Papua, orang Papua sendiri yang bisa menyelesaikan konflik bukan orang luar yang sok paham tentang Papua,” tukasnya.
Selaras dengan Wandik, Ketua Bamus Papua & Papua Barat, Willem Frans Ansanay berpendapat bahwa biarkan seluruh perwakilan suku di Papua yang menyelesaikan konflik di Papua. “Kasih kepercayaan, fasilitasi wadah dimana seluruh perwakilan kepala suku yang ada di Papua berdiskusi tentang apa yang dinginkan masyarakat Papua,” kata Frans putera asli papua dalam paparannya.
Frans pun sepakat, untuk menyelesaikan masalah papua tidak bisa dilakukan dengan cara kekerasan menurunkan ribuan aparat keamanan. Ia berharap agar aparat TNI ditarik dari Papua bila keadaan sudah aman, biarkan dan percayakan Polri menjaga ketertiban masyarakat. “Ya tugas negara memang melindungi masyarakat, memberikan rasa aman. Pemerintah sebaiknya mengangkat harkat martabat orang Papua. Setarakan Orang Papua dengan suku lain di Indonesia. Jangan terus dicurigai dan dianggap anarkis membahayakan,” imbau Frans.
“Kepada Adik-adik mahasiswa Papua, tunjukan prestasi buktikan Anda berkualitas. Jadikan ejekan, perlakuan diskrimibasi sebagai motivasi mengembangan kemampuan diri,” sambungnya.
Diketahui, saat ini, Frans aktif mengurus para mahasiswa yang ditahan di Mako Brimob. Beberapa dari mereka sudah berhasil dikeluarkan. (jek)







