Program Pengajaran Al-Qur’an Diikuti 2.738 Peserta dari Berbagai Kalangan

oleh -
Program pengajaran bahasa Arab, Arab Qur’ani dan membaca Al-Qur’an yang diadakan Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur’an (LBIQ) Provinsi DKI Jakarta, Selasa (5/5/2026). (ist/bj)

JAKARTAPEDIA.co.id – Sebanyak 2.738 peserta dari lima wilayah kota dan Kabupaten Kepulauan Seribu, ikut program pengajaran bahasa Arab, Arab Qur’ani dan membaca Al-Qur’an yang diadakan Lembaga Bahasa dan Ilmu Al-Qur’an (LBIQ) Provinsi DKI Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Kepala LBIQ DKI Jakarta, Zaenal Arifin Gufron mengatakan, program yang mengusung tema “Membumikan Al-Qur’an Menuju Jakarta Sebagai Kota dan Berbudaya” ini bertujuan membentuk generasi yang berintegritas, berakhlak mulia, serta mampu menjadi penyejuk di tengah dinamika kehidupan masyarakat.

“Program ini terbuka luas bagi warga Jakarta yang memiliki keinginan belajar memperbaiki bacaan dan memahami Al-Qur’an,’ tutur Zaenal Arifin.

Menurut Zaenal Arifin, 2.738 peserta yang ikut program ini telah mendaftarkan diri sejak 6 hingga 17 April lalu.

Dia menambahkan, LBIQ merupakan lembaga yang didirikan Pemprov DKI untuk menggelar program membaca Al-Quran, bahasa Arab dan Arab Qur’ani. Ini adalah satu-satunya Lembaga di Indonesia yang dibentuk melalui Peraturan Gubernur (Pergub).

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini,” ujar Zaenal Arifin.

Kepala Biro Pendidikan Mental Spiritual (Dikmental) DKI Jakarta, Fajar Eko Satrio menegaskan, LBIQ didirikan sebagai wadah bagi masyarakat Jakarta belajar membaca dan memahami Al-Qur’an, sekaligus membentuk karakter serta tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan.

“Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi serta berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks dibutuhkan generasi yang memiliki keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai spiritual antara kecakapan berpikir dan kejernihan hati. Di sinilah peran strategis LBIQ,” tuturnya.

“Pemprov DKI Jakarta meyakini bahwa pembangunan kota tidak sekadar diukur dalam kemajuan fisik dan ekonomi, tapi juga kualitas manusia,” tandasnya. (ig/bj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *