Pengguna Lensa Kontak Diminta Waspada Saat Abu Vulkanik Menyebar

oleh -
oleh
Ilustrasi Lensa Kontak. (ist)

JAKARTAPEDIA.co.id – Dokter spesialis mata lulusan Universitas Indonesia dr. Sesaria Rizky Kumalasari, Sp. M, menjelaskan alasan mengapa penggunaan lensa kontak tidak direkomemdasikan ketika lingkungan sedang dilanda abu vulkanik akibat erupsi gunung berapi.

Lensa kontak sering menjadi pilihan untuk membantu penglihatan ketika sedang beraktivitas dan untuk menunjang penampilan.

Tapi, abu vulkanik yang beberapa waktu lalu menyebar di sejumlah daerah di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat dan Lampung akibat erupsi Gunung Anak Krakatau berisiko membuat pengguna lensa kontak rentan terkena penyakit mata.

“Saat menggunakan lensa kontak, abu vulkanik bisa saja menempel di permukaannya sehingga dapat terjebak di bagian dalam lensa kontak yang bersinggungan dengan permukaan mata,” kata Sesaria di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Non-Katarak di Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Cabang Jakarta (Perdami Jaya) itu menjelaskan abu yang terperangkap dibalik lensa kontak berisiko menyebabkan goresan dan gesekan di permukaan kornea sehingga dapat terluka.

Selain itu, senyawa kimiawinya dapat terperangkap dan menimbulkan reaksi peradangan lanjutan yang lebih berat.

Goresan dan gesekan di permukaan kornea menimbulkan luka terbuka yang berukuran mikroskopis sehingga permukaan kornea berisiko mengalami infeksi bakteri.

Selain itu, lensa kontak yang terkontaminasi juga dapat menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi bakteri. Jika terjadi infeksi berat berupa ulkus kornea, maka dapat menyebabkan kekeruhan pada kornea bahkan sampai berujung pada kebutaan.

“Oleh karena itu, lensa kontak tidak dianjurkan untuk digunakan saat terjadi paparan abu vulkanik,” kata Sesaria.

Ketika lingkungan sedang dilanda abu vulkanik, dia menyarankan untuk menggunakan kacamata yang dinilai jauh lebih aman dan memberikan manfaat serupa dengan lensa kontak.

Seperti diketahui Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda erupsi pada Jumat (4/9/2026) malam.

Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda mengalami erupsi dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun 2026 yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026) dini hari. Saat ini gunung tersebut berada pada level III siaga. (ist/ant)

Dapatkan berita dan informasi menarik lainnya dengan ikuti kanal WhatsApp JAKARTAPEDIA agar tak ketinggalan update berita menarik setiap hari.