Sementara untuk daging sapi, ayam, dan ikan, Perumda Dharma Jaya memastikan ketersediaan dalam kondisi aman hingga Idulfitri.
Minyak goreng, gula, telur, cabai, serta bawang merah dan putih juga telah dipersiapkan sesuai proyeksi peningkatan kebutuhan.
Meski demikian, Uus mengingatkan agar seluruh jajaran tidak lengah. Dia menegaskan, kesiapan stok harus dibarengi pengawasan berkelanjutan mengingat dinamika ekonomi dapat berubah sewaktu-waktu.
Uus berharap, dengan konsolidasi BUMD pangan dan langkah antisipatif TPID, pertumbuhan ekonomi Jakarta tetap terjaga selama Ramadan dan Idul Fitri 2026, sekaligus memastikan inflasi daerah tetap terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Kalau berdasarkan terakhir kemarin yang diberi Pak Gubernur, bahwa untuk pertemuan ekonomi di Jakarta ini, melebihi dari pertumbuhan ekonomi nasional, 5,21 persen, ini sudah barang tentu situasi kondisi yang menjadi pertanda, bahwa Pemprov Jakarta serius bagaimana untuk mengendalikan pertumbuhan ekonomi di Jakarta,” pungkasnya.
Sementara itu Dirut Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman, mengklaim berhasil meredam potensi mogok pedagang daging sapi di pasar-pasar Jakarta melalui koordinasi cepat bersama dinas terkait dan pelaku usaha.
Langkah tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga daging di Ibu Kota.
Kata dia, perseroan bergerak cepat ketika muncul rencana aksi mogok berjualan daging sapi yang berpotensi mengganggu distribusi di tingkat pasar.
“Alhamdulillah, saat ada rencana mogok berjualan daging sapi, kami bisa berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Kami duduk bersama untuk mencari solusi terbaik agar situasi tidak berlarut-larut,” ujar Raditya.
Menurutnya, koordinasi dilakukan di bawah arahan Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan pasokan tetap berjalan dan tidak menimbulkan gejolak harga di masyarakat.
Dharma Jaya bersama para pemangku kepentingan berupaya mengorganisir distribusi dan berbagi peran untuk menjaga stabilitas.
“Kami berbagi peran, melihat apa yang bisa kami lakukan untuk Jakarta. Tujuannya satu, supaya distribusi tetap aman dan harga tetap terkendali,” katanya.
Raditya menegaskan, sebagai badan usaha milik daerah, Dharma Jaya tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memiliki tanggung jawab menjaga ketahanan pangan, termasuk saat terjadi potensi gangguan di lapangan.
Dia juga menyebut, sinergi antara BUMD, importir, distributor, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam meredam gejolak. Dengan komunikasi yang intensif, potensi aksi mogok dapat diminimalisir sehingga tidak berdampak luas pada masyarakat.





