Seperti diketahui, Sudin LH Kecamatan Kramat Jati memprioritaskan pengangkutan sampah lama di Pasar Induk Kramat Jati untuk menekan bau menyengat yang berpotensi menimbulkan keluhan warga sekitar.
Sampah lama memiliki tingkat pembusukan yang lebih tinggi dibandingkan sampah baru sehingga menjadi sumber utama bau tidak sedap.
Dalam proses pengangkutan, petugas menghadapi kendala teknis akibat kondisi sampah yang bercampur dan basah.
Timbunan sampah yang padat menyulitkan pengambilan menggunakan sekop (shovel) karena material harus dicongkel terlebih dahulu.
Namun, tumpukan sampah lama di Pasar Induk Kramat Jati semakin berkurang signifikan setelah dilakukan pengangkutan intensif selama lima hari terakhir oleh Sudin LH Jakarta Timur.
Penanganan masif dilakukan dengan mengerahkan ratusan armada truk menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, sehingga hampir seluruh sampah lama yang sempat menggunung kini telah diangkut.
Hingga hari ke-lima penanganan, sebanyak sekitar 168 truk telah dikerahkan untuk mengangkut sampah lama dengan total volume mendekati 2.000 ton.
Pada Senin (12/1/2026), Sudin LH Jakarta Timur kembali memploting 36 kendaraan dengan target pengangkutan tambahan sekitar 350 hingga 500 ton. Dengan skema pengangkutan dua rit, total sampah yang dapat diangkut diproyeksikan mencapai lebih dari 2.300 ton.
Pengurangan tumpukan sampah tersebut turut berdampak pada berkurangnya bau menyengat yang sebelumnya dikeluhkan warga sekitar pasar.
Sebelumnya, Sudin LH Jakarta Timur menargetkan penanganan lonjakan timbulan sampah di Pasar Induk Kramat Jati dapat dituntaskan dalam waktu lima hari.
Langkah tersebut diambil menyusul peningkatan volume sampah secara signifikan selama musim buah, yang menyebabkan penumpukan di sejumlah titik kawasan pasar.






