JAKARTAPEDIA.co.id – Di tengah megahnya Indonesia Arena di kawasan Gelora Bung Karno, Sabtu (6/12/2025), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berdiri di panggung utama Indonesia Sports Summit 2025.
Ruangan dipenuhi pelaku industri olahraga, profesional, hingga akademisi yang datang dari berbagai daerah. Tema besar yang diusung, “Collaborative Development for a Sustainable Sports Infrastructure Ecosystem”, menjadi sorotan pembahasan hari itu.
Bagi Pramono, olahraga bukan sekadar kompetisi atau selebrasi prestasi. Ia memandangnya sebagai ekosistem yang menyambungkan tata kota modern, gaya hidup masyarakat, pariwisata, hingga kebanggaan sebuah daerah.
“Tanpa kolaborasi antarpemangku kepentingan, perkembangan olahraga tidak akan berjalan optimal,” ujarnya, menegaskan bahwa kerja sama antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI
Jakarta menjadi landasan utama.
Jakarta dan Ambisi Kota Global 2030
Jakarta sedang bergerak menuju target besar: menjadi kota global top 50 pada tahun 2030. Dalam konteks olahraga, langkah strategis itu bukan hanya ditandai pembangunan fasilitas fisik, tetapi juga bagaimana infrastruktur tersebut hidup, terawat, dan memberi manfaat.
Jakarta International Stadium, Velodrome, dan Equestrian Park menjadi contoh fasilitas yang terus dipoles agar sesuai standar internasional.
Bagi Pramono, fasilitas tersebut bukan hanya bangunan monumental, tetapi simbol kesiapan Jakarta sebagai tuan rumah ajang nasional maupun internasional.
Termasuk di dalamnya, klub sepak bola ibu kota, Persija. “Saya juga berkomitmen menjadikan Persija sebagai ikon Jakarta,” katanya.
Museum klub, peningkatan fasilitas latihan, hingga stadion representatif sebagai home base tengah disiapkan sebagai bagian dari identitas kota.
Event Olahraga Berkualitas Global
Jakarta bukan hanya membangun stadion—kota ini sedang membangun momentum. Jakarta International Marathon dan Jakarta Running Festival disiapkan naik kelas menjadi major marathon yang dapat menarik ribuan pelari dunia.
Untuk mendukungnya, Pramono menegaskan pentingnya rekayasa mobilitas perkotaan, transportasi publik yang terintegrasi, hingga pembangunan jembatan konektivitas baru Ancol–JIS.
“Event besar butuh kenyamanan peserta dan penonton. Itu bagian dari ekosistem,” tuturnya.
Olahraga Sebagai Bagian Kehidupan Kota
Selain fasilitas raksasa, Jakarta juga bergerak menyentuh ruang kehidupan warganya. Revitalisasi Lapangan Blok S, pembangunan Bulungan Sport Complex, hingga pengembangan kawasan olahraga rekreasi di Sunter menjadi bagian dari transformasi gaya hidup sehat masyarakat.
Skema kerja sama pemerintah dan swasta digunakan untuk mempercepat pembangunan tanpa sepenuhnya mengandalkan APBD.
“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci,” kata Pramono, membuka peluang bagi pihak swasta untuk ikut berperan dalam pembangunan taman kota, ruang bawah tol, dan kawasan transit oriented development di titik-titik seperti Dukuh Atas, Bundaran HI, hingga Kota Tua.
Menuju Ekosistem Olahraga Berkelanjutan
Di akhir paparannya, Pramono kembali menegaskan bahwa olahraga adalah bagian dari masa depan Jakarta—bukan agenda sesaat.
“Jakarta akan terus membangun ekosistem olahraga masa depan yang berkelanjutan dan modern,” katanya.
Ia menutup dengan komitmen: Jakarta siap berkolaborasi, menjadi tuan rumah, dan hadir sebagai pusat pertumbuhan olahraga regional—selama berdampak nyata bagi masyarakat. (bj/jek)






