JAKARTAPEDIA.co.id – Koordinator Residen PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, menilai bahwa Jakarta berpeluang menjadi model global kota yang berdaya saing, inklusif, berkelanjutan, dan tangguh, dan menyebutkan bahwa ukuran Jakarta yang besar memberi peluang sekaligus tanggung jawab.
“Jakarta berpotensi menjadi model global, khususnya bagi kota yang berupaya untuk menjadi kompetitif secara global, inklusif, berkelanjutan, dan tangguh,” kata Sabharwal dalam Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 sesi panel “Building Competitive and Livable Cities” di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Sabharwal menyebutkan bahwa Jakarta menargetkan untuk masuk ke peringkat 20 kota teratas dunia pada 2045, dan mengatakan bahwa dirinya memahami tantangan pemimpin kota yang memiliki visi ambisius untuk mewujudkan hal tersebut.
Dia pun berharap adanya kemitraan dapat menyatukan pendanaan dan keahlian global, termasuk melalui kerja sama pemerintah-swasta serta pemanfaatan platform yang ada untuk membuka akses terhadap solusi, keahlian, dan pembiayaan.
Karena itulah, Sabharwal mengatakan bahwa PBB bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) akan meluncurkan platform Indonesia untuk Investasi Global bagi Pembangunan Berkelanjutan, untuk membawa investor, mitra pembangunan, dan pelaku usaha dalam dan luar negeri, termasuk lembaga keuangan internasional.
Menurutnya, platform tersebut merancang mekanisme pembiayaan, termasuk pembiayaan campuran dan skema inovatif, untuk membuka modal bagi prioritas kota, mulai dari infrastruktur perkotaan, energi, energi terbarukan, hingga pengelolaan sampah.
Meskipun demikian, Sabharwal mengatakan bahwa selain memusatkan peluang, kota juga memiliki kerentanan; kota menjadi tempat pekerjaan, inovasi, investasi, dan layanan, juga garis depan perubahan iklim, tekanan lingkungan, dan ketimpangan yang menuntut infrastruktur, perumahan, dan transportasi.
Terkait polusi udara, Sabharwal menilai bahwa masyarakat telah mengetahui dampaknya terhadap kesehatan, produktivitas, kota dan masyarakat itu sendiri, termasuk penyebab dan sumber polusinya, serta bagaimana kondisinya sering berubah seiring dengan pergantian musim.
“Kita memerlukan pendekatan terintegrasi, karena udara bersih bukan sekadar solusi lingkungan; hal ini bergantung pada sistem energi, sistem transportasi, dan sistem pengelolaan limbah,” ujarnya. (ig/ist)






