JAKARTAPEDIA.co.id – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menjadi keynote speaker di acara Indonesia International Transport Summit (IITS) 2026 yang berlangsung di The Tribrata Hotel & Convention Center, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
Dalam sambutannya, Pramono mendorong penguatan kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan transportasi dan meningkatkan mobilitas guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Forum ini adalah kesempatan penting untuk memperkuat kolaborasi dan memajukan mobilitas yang lebih berkelanjutan, seiring langkah Jakarta dalam perjalanan lima abadnya menuju kota global,” ujar Pramono.
Persoalan transportasi ini tak hanya dihadapi oleh Jakarta, namun juga berbagai kota lainnya di dunia. Selain menangani masalah kemacetan, Jakarta juga berupaya memperluas akses masyarakat dalam bertransportasi, sekaligus mengurangi polusi dan emisi.
Menurut Pramono, forum ini menjadi ruang untuk bertukar pengalaman dengan kota lain, terutama di kawasan Global South, dalam membangun mobilitas yang lebih bersih, inklusif, dan efisien.
Jakarta sendiri saat ini tengah menghadapi tantangan mobilitas, mengingat jumlah penduduknya yang mencapai 11,1 juta jiwa serta 41,9 juta jiwa menghuni kawasan penyangga.
“Jumlah populasi dan pergerakan komuter harian yang masif ini memberikan tekanan signifikan pada sistem mobilitas perkotaan kami,” katanya.
Di sisi lain, Jakarta juga telah meningkatkan akses transportasi publik. Saat ini, layanan transportasi publik telah menjangkau sekitar 92 persen penduduk Jakarta.
Meski demikian, sektor transportasi ini merupakan sumber emisi gas rumah kaca terbesar, yang menyumbang 52 persen dari emisi langsung pada 2024. Tingginya angka penggunaan kendaraan pribadi berdampak pada masalah kemacetan, polusi, hingga penurunan kualitas hidup.
Karena itu, Pramono mendorong masyarakat untuk menjadikan transportasi publik sebagai moda pilihan utama dalam bermobilitas.
Gubernur juga menyampaikan, transformasi transportasi menjadi bagian penting dari agenda rendah karbon Jakarta.
Pemprov DKI menargetkan menuju Net Zero Emission pada 2050, menurunkan emisi gas rumah kaca 30 persen pada 2030, serta meningkatkan perjalanan menggunakan transportasi publik hingga 55 persen pada 2044.
Untuk meningkatkan mobilitas perkotaan, Jakarta fokus memperluas layanan transportasi; penyediaan akses gratis transportasi publik bagi 15 golongan masyarakat; pengembangan kawasan TOD, hingga peningkatan fasilitas pejalan kaki.
Selain itu, Pemprov DKI juga mengelola penggunaan kendaraan pribadi melalui sistem ganjil-genap, disinsentif parkir bagi kendaraan yang tidak lulus uji emisi, Zona Emisi Rendah, dan Jalan Berbayar Elektronik (ERP).
Untuk mempercepat transisi hijau melalui elektrifikasi transportasi publik, Pemprov DKI pun telah mengoperasikan 500 bus listrik dan menargetkan 10.047 bus listrik pada 2030.
“Hal ini berarti seluruh armada TransJakarta akan beralih ke tenaga listrik,” ujar Pramono.
Pramono menekankan, transformasi transportasi perkotaan membutuhkan sinergi antara kementerian nasional, pemerintah daerah, sektor swasta, inovator teknologi, dan masyarakat.
“Saya berharap forum ini dapat memperkuat kolaborasi, mendorong inovasi, dan mempromosikan investasi transportasi yang memberikan manfaat ekonomi maupun lingkungan bagi kota-kota berkelanjutan di masa depan,” tandasnya. (bj/ig)






