JAKARTAPEDIA.co.id – Langit senja di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, terasa hangat ketika lantunan doa dan salam menyambut kedatangan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Di lingkungan Pondok Pesantren Al Hamid, Safari Ramadan 1447 H/2026 M bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang temu antara ulama dan umara untuk merawat harmoni Ibu Kota.
Dalam suasana yang khidmat, Pramono menegaskan pentingnya memperkuat sinergi kedua unsur tersebut. Ia mengajak para ulama, tokoh agama, serta jajaran PWNU dan keluarga besar pesantren untuk terus menjaga Jakarta tetap kondusif, aman, dan nyaman bagi seluruh warganya.
Menurutnya, Safari Ramadan merupakan tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan umat Islam Indonesia.
Momentum ini, kata Pramono, menjadi wujud nyata penguatan nilai-nilai keagamaan sekaligus sarana merajut ukhuwah—baik ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, maupun ukhuwah basyariyah—di tengah masyarakat yang majemuk.
Ia mengingatkan, Jakarta sebagai kota dengan tingkat keberagaman tinggi memikul tanggung jawab besar dalam menjaga ketenteraman bersama.
Nilai Islam moderat (tawasuth), toleran (tasamuh), serta semangat kebhinekaan yang selama ini dikembangkan Nahdlatul Ulama disebutnya sebagai fondasi penting menuju Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada keimanan dan kearifan budaya.
Meski demikian, Pramono tidak menutup mata terhadap tantangan zaman. Isu intoleransi, penyebaran hoaks, hingga provokasi berbasis identitas masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Dalam konteks inilah peran ulama sebagai waratsatul anbiya dinilai krusial untuk menyejukkan suasana dan memperkuat persaudaraan.
Sebagai langkah konkret, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan tiga gagasan utama. Pertama, rencana penyelenggaraan haul ulama Betawi setiap bulan Juli dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Jakarta yang akan dipusatkan di Monumen Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada para tokoh ulama.
Kedua, menghidupkan kembali Musabaqah Tilawatil Quran hingga ke tingkat paling bawah—mulai dari RT, RW, kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, hingga provinsi—untuk memperebutkan Piala Gubernur sebelum para juara melaju ke tingkat nasional.
Ketiga, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga Jakarta di tengah dinamika global yang kian memanas.
Seruan itu menutup rangkaian Safari Ramadan sore itu. Di tengah gemuruh kota yang tak pernah benar-benar tidur, pesan tentang pentingnya kebersamaan kembali digaungkan: menjaga keteguhan, kenyamanan, keselamatan, dan kebahagiaan warga Jakarta adalah tugas bersama. (ist/ant)

