Dia menambahkan, permintaan gula pasir saat Ramadan dan Idulfitri juga cenderung naik untuk membuat makanan berat atau kue.
Saat ini stok gula pasir yang tersedia mencapai 192 ton, dan perseroan berencana melakukan pengadaan 1.447 ton dengan melibatkan PT PN dan ID Food.
Begitu juga dengan minyak goreng dengan stok 36.234 liter saat ini, Food Station akan melakukan pengadaan sebesar 643.530 liter untuk kebutuhan HBKN.
Sedangkan stok telur ayam 4,1 ton akan ditambah 1.002 ton, dan stok tepung terigu 25 ton, bakal ditambah sebesar 63,2 ton.
Di sektor distribusi, Food Station memaksimalkan jaringan perdagangan modern trade di 39.000 lokasi, dan konvensional dengan 1.000 pelanggan.
Untuk menjaga keterjangkauan harga, perusahaan menggencarkan operasi pasar murah bersubsidi.
“Pasar murah itu kami jalan setiap hari 10 titik di kelurahan-kelurahan, di rusun, untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama menengah ke bawah untuk menjangkau harga pangan yang murah,” imbuhnya.
Sementara itu Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Uus Kuswanto menegaskan, tidak boleh ada lonjakan harga maupun kekurangan stok pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Kata Uus, seluruh BUMD pangan, terutama PT Food Station Tjipinang Jaya (FS), harus memastikan ketersediaan komoditas utama tetap aman dan terkendali.
“Kalau kata Pak Gubernur, tidak ada alasan lagi Pemprov DKI tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok warga. Jangan sampai ada kagetan menjelang Ramadan dan Idulfitri,” katanya.
Berdasarkan laporan dan proyeksi Pemprov DKI, konsumsi pangan mengalami peningkatan signifikan saat Ramadan dan melonjak lebih tinggi lagi menjelang Idulfitri.
Menjelang Ramadan, kebutuhan telur diprediksi naik 7,5 persen, daging sapi dan kerbau 3,57 persen, bawang putih 3,57 persen, cabai rawit 3,05 persen, serta bawang merah 2,89 persen.
Sementara menjelang Idulfitri, lonjakan lebih tinggi terjadi pada telur ayam yang mencapai 17,20 persen, disusul daging ayam 10,77 persen, bawang merah 10,67 persen, minyak goreng 9,67 persen, dan cabai rawit 9,18 persen.
Lonjakan dua digit pada komoditas telur dan hampir 10 persen pada minyak goreng menjadi perhatian khusus, mengingat kedua bahan tersebut sangat dekat dengan kebutuhan rumah tangga maupun pelaku UMKM makanan.
Untuk mengantisipasi hal itu, Pemprov DKI mengandalkan koordinasi tiga BUMD pangan, yakni Perumda Pasar Jaya, Perumda Dharma Jaya, dan PT Food Station Tjipinang Jaya.
Food Station memegang peran strategis terutama dalam menjaga pasokan beras sebagai komoditas utama pengendali inflasi.
Saat ini total stok beras di Jakarta tercatat mencapai 182.172 ton, rinciannya 40.088 ton berada di Pasar Induk Beras Cipinang, 8.100 ton di Food Station, 18.000 ton dialokasikan sebagai cadangan HBKN, 141.823 ton di Bulog, serta 261 ton di Pasar Jaya.
“Kalau melihat hitung-hitungan kebutuhan dan ketersediaan, kita siap. Tetapi kita juga tidak boleh terlalu percaya diri. Perkembangan di lapangan bisa sangat dinamis,” imbuhnya.
Selain beras, stok minyak goreng tercatat 625 ton, gula 437,4 ton, telur 5,5 ton, cabai rawit 57 ton, bawang merah 104 ton, dan bawang putih 48 ton.
Uus menegaskan, stabilitas pangan menjadi bagian penting dalam menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi Jakarta. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat sebesar 5,21 persen, melampaui rata-rata nasional.
“Stabilitas pangan adalah fondasi stabilitas ekonomi. Dengan koordinasi yang solid dan langkah antisipatif, kami optimistis kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri dapat terpenuhi, inflasi tetap terkendali, dan pertumbuhan ekonomi terjaga,” pungkasnya.





