JAKARTAPEDIA.co.id – Suasana hangat dan penuh sukacita menyelimuti Graha Bethel, Jakarta Timur, Jumat (20/12/2025) pagi. Badan Pengurus Pusat (BPP) Gereja Bethel Indonesia (GBI) menggelar perayaan Natal dengan tema “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, sebuah tema yang terasa relevan di tengah tantangan keluarga dan krisis kemanusiaan yang kian kompleks belakangan ini.
Dalam sambutannya, Ketua Sinode GBI, Pdt Dr Rubin Adi Abraham, M.Th., mengajak jemaat menengok kembali makna keluarga sebagai fondasi kehidupan dan pelayanan.
Baginya, keharmonisan rumah tangga bukan sekadar urusan privat, melainkan cermin iman yang hidup.
Ia pun berbicara dengan nada ringan namun sarat makna, menyentuh relasi suami-istri yang kerap diuji oleh rutinitas dan tekanan hidup.
“Marilah kita saling mengasihi. Happy wife, happy life. Kasihi istri dengan tulus, buat mereka merasa dihargai dan disenangkan,” ujar Rubin, yang disambut senyum dan tepuk tangan jemaat yang hadir termasuk sejumlah wartawan tergabung di Perwamki (Persatuan Wartawan Media Kristen).
Namun, perayaan Natal pagi itu juga diwarnai keprihatinan. Rubin membagikan pengalamannya menyaksikan langsung dampak bencana alam di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Bencana yang ia sebut sebagai “luka ekologis” itu meninggalkan kerusakan masif dan penderitaan bagi warga setempat.
“Kami sudah berupaya mengoordinasikan bantuan, tetapi akses terputus. Puji Tuhan, keesokan harinya helikopter BNPB berhasil mengangkut logistik dan tenaga untuk mendirikan posko di Sibolga,” tuturnya.
Ia menyoroti kondisi banjir bercampur lumpur dan gelondongan kayu besar yang masih bertanda cap perusahaan. Bagi Rubin, pemandangan tersebut menjadi alarm keras tentang krisis ekologi yang tak lagi bisa diabaikan.
“Ini peringatan bagi kita semua. Kerusakan lingkungan akan menyisakan penderitaan bagi generasi mendatang. Mari kita mulai dari hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan sampah plastik,” katanya.
Di tengah keprihatinan itu, Rubin juga menyampaikan rasa syukur atas para dewan pendiri GBI yang masih setia mendoakan perjalanan gereja.
Ia mengabarkan perkembangan pembangunan Museum GBI serta pencapaian Seminari Bethel Petamburan yang kini memiliki dua guru besar—sebuah tonggak penting dalam penguatan pendidikan teologi.
Sebelumnya, ibadah Natal diawali dengan khotbah yang disampaikan Ps Pujo, mengangkat firman dari Injil Matius 1:21.
Ia membuka renungan dengan pertanyaan reflektif yang menggugah jemaat, “Sudahkah keselamatan itu sungguh-sungguh Anda alami secara pribadi?”
Ps Pujo mengingatkan bahwa kedatangan Yesus Kristus untuk kedua kalinya semakin dekat.
Menurutnya, tanda-tanda zaman kian nyata melalui bencana alam, banjir bandang di berbagai negara, serta konflik dan peperangan yang terus terjadi.
“Ketika Yesus datang kembali, mereka yang telah meninggal akan dibangkitkan dan kita akan dipertemukan di angkasa,” katanya.
Ia kemudian menyoroti realitas kehidupan rohani masa kini, ketika banyak keluarga justru kehilangan kehangatan, kesatuan, dan keharmonisan—bahkan di tengah umat Tuhan sendiri.
Kisah keluarga Yusuf dan Maria menjadi ilustrasi kuat bahwa Yesus hadir dan lahir di tengah pergumulan keluarga.
Maria yang mengandung tanpa sepengetahuan Yusuf menjadi ujian besar, namun ketaatan Yusuf kepada firman Tuhan menjadi jalan keselamatan bagi keluarga tersebut.
“Keluarga adalah fondasi pelayanan. Banyak hamba Tuhan sibuk melayani, tetapi Tuhan tidak hadir di rumah mereka,” tegas Ps Pujo.
Ia pun menyampaikan peringatan bagi para pelayan Tuhan agar tidak hanya aktif di mimbar, tetapi pasif di rumah. Menurutnya, perhatian, pendampingan, dan konseling justru paling dibutuhkan oleh pasangan dan anak-anak.
“Koreksilah diri dalam pelayanan. Luangkan waktu untuk jemaat, tetapi jangan abaikan waktu untuk keluarga,” pungkasnya.
Perayaan Natal BPP GBI tahun ini menjadi lebih dari sekadar seremoni rohani. Ia menjelma sebagai pengingat bahwa kehadiran Allah tidak hanya dirayakan di altar, tetapi juga dihidupi dalam kasih di tengah keluarga serta tanggung jawab bersama menjaga ciptaan-Nya.
Usai ibadah perayaan Natal, para jemaat dijamu dengan hidangan makan bersama dan hadiah door prize Natal dari panitia, sehingga membuat suasana semakin meriah dan terjalin keakraban. (jek)






