GSPDI House of Filadelfia Belleza Gelar Seminar “Ada Apa di Balik Tato & Tindik”, dalam Perspektif Kesehatan dan Kerohanian Kristen

oleh -
GSPDI House of Filadelfia Belleza menggelar seminar bertajuk “Ada Apa di Balik Tato & Tindik” pada Kamis 7 November 2024, dimulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. (pede)

JAKARTAPEDIA.co.id – GSPDI House of Filadelfia Belleza menggelar seminar bertajuk “Ada Apa di Balik Tato & Tindik” pada Kamis 7 November 2024, dimulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Acara tersebut menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Andy Tananda, Dr. Cynthia Rindang Kusumanintyas, Sp.A, dan Ps. Kong Leories.

Kegiatan seminar Tato dan Tindik ini dikupas baik dari perspektif sudut pandang medis, dan sisi rohani untuk memberikan wawasan mendalam kepada peserta dalam memahami fenomena gaya hidup Tato dan Tindik ini khususnya di kalangan anak muda.

Ps. Kong Leories menyampaikan, membuat Tato dan Tindik dilarang karena dianggap bertentangan dengan kehendak Tuhan, mengingat praktek ini terkait dengan simbol-simbol dunia orang mati.

Ia menegaskan bahwa larangan ini bukan semata-mata soal estetika, melainkan karena Tuhan menciptakan manusia dalam keadaan sudah sempurna.

Ps. Kong juga merujuk pada ayat dalam Alkitab, Imamat 19:28, yang berbunyi: “Janganlah kamu menggoresi tubuhmu karena orang mati dan janganlah merajah tanda-tanda pada kulitmu; Akulah TUHAN.”

Ia juga menjelaskan hasil survei yang menunjukkan bahwa seseorang cenderung mengalami perubahan negatif dalam kepribadiannya setelah ditindik. Menurutnya, tindik dapat memengaruhi karakter dan sikap seseorang, sering kali ke arah yang kurang baik. Begitu juga dengan yang membuat Tato banyak negatifnya baik untuk kesehatan maupun rohani.

Bagi pemilik tato yang ingin bertobat, Ps. Kong menyarankan agar tidak perlu menghapus tato karena prosesnya akan menyakitkan dan serupa dengan pembuatan tato baru.

“Kalau yang mau bertobat. Cukup mohon ampun dan mintalah agar tubuh Anda dikuduskan,” tuturnya.

Sementara itu, Dr. Cynthia Rindang Kusumanintyas, Sp.A, menjelaskan dari sudut pandang medis juga berdampak.

Ia mengungkapkan bahwa membuat tato sama dengan memasukkan tinta ke dalam tubuh seseorang.

Padahal, kulit manusia terdiri dari beberapa lapisan, di mana lapisan dermis tempat tinta tato disuntikkan mengandung banyak pembuluh darah kecil, saraf-saraf halus, serta sel-sel yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh.

“Saat proses tato dilakukan, jarum yang menembus kulit dapat merusak jaringan kulit, termasuk saraf-saraf halus di area tersebut. Hal ini dapat menyebabkan rasa nyeri atau bahkan terbakar,” ujarnya.

Selain itu, Dr. Cynthia juga memperingatkan bahwa penggunaan tinta tato ini juga dapat memicu berbagai risiko kesehatan, termasuk infeksi kulit, kanker kulit, hingga penyakit autoimun.

“Pernahkah Anda berpikir bahwa membuat tato berarti memasukkan tinta ke dalam tubuh? Karena tinta adalah benda asing, tubuh secara alami akan mencoba menyingkirkannya. Proses ini bisa membuat tinta justru menyebar ke berbagai bagian tubuh, seperti kelenjar getah bening dan aliran darah, sehingga tinta tidak hanya tinggal di kulit, tetapi juga dapat berpindah ke area lain. Ini bakal berdampak pada kesehatan,” terangnya.

Selain itu, jika tubuh bereaksi dengan penolakan terhadap tinta, hal ini dapat memicu masalah kesehatan serius, seperti gangguan autoimun atau bahkan kanker.

Dr. Cynthia juga mengingatkan bahwa peralatan yang digunakan untuk membuat tato belum tentu steril, sehingga meningkatkan risiko infeksi dan penularan penyakit.

Di akhir paparannya, Dr. Cynthia berpesan, terutama kepada kaum muda, agar senantiasa mengelilingi diri dengan teman-teman yang memiliki visi yang sejalan dalam kehidupan mereka.

Sementara itu gembala GSPDI House of Filadelfia Belleza, Ps. Mulyadi Soleman, menyampaikan kepada wartawan di sela-sela acara bahwa seminar ini diadakan selain untuk mengisi kegiatan gereja, juga karena Ps. Kong, yang menjadi narasumber, adalah teman baiknya.

“Selain itu, saat ini tato dan tindik sedang menjadi tren di kalangan anak muda. Dahulu, di zaman penembak misterius (Petrus-red), orang-orang takut memiliki tato, tetapi sekarang justru sebaliknya. Banyak anak muda yang bertanya kepada kami, apakah boleh memiliki tato? Maka dari itu, kami menyelenggarakan acara ini untuk memberikan pemahaman yang benar,” ujarnya.

Ps. Mulyadi menambahkan, meskipun tato bisa dianggap sebagai bagian dari mode atau fashion, kita perlu menyadari bahwa tubuh kita disebut sebagai ‘rumah Allah’ dalam ajaran Kristen.

“Ada ayat yang mengatakan bahwa siapa yang merusak tubuhnya akan menerima hukuman dari Tuhan,” jelasnya.

“Kami ingin memberikan pengetahuan dan pemahaman berdasarkan firman Tuhan, tetapi keputusan tetap ada pada masing-masing individu,” tutupnya. (pede)