Asisten Pembangunan Jakarta Timur Kusmanto Segera Tindak Lanjuti Aduan Warga Sesuai Arahan Pj Gubernur Heru

oleh -

JAKARTAPEDIA.co.id – Program layanan meja pengaduan masyarakat di Balai Kota DKI Jakarta yang dibuka sejak Selasa (18/10/2022), makin banyak didatangi warga, terbukti dari jumlah laporan yang masuk pada hari ini Selasa (25/10/2022) sejak pukul 07.30 WIB hingga 08.30 WIB terlihat salah satunya di meja aduan Pemkot Jakarta Timur, yang nampak dipenuhi warga untuk mengantri.

Asisten Pembangunan Pemkot Jakarta Timur, Kusmanto, ditemui wartawan di lokasi mengungkapkan, hari ini Selasa (25/10/2022), pihaknya menerima 15 aduan warga terkait berbagai hal.

Salah satunya mengenai persoalan banjir, sumur resapan, layanan kesehatan, dan berbagai persoalan lainnya.

“Total ada 15 aduan warga yang kota terima hari ini,” ujar Kusmanto, Selasa (25/10/2022) usai menerima sejumlah laporan warga pada pukul 08.30 WIB.

Kusmanto mengatakan, mengenai sumur resapan, yang benar adalah yang dibangun dengan kedalaman mencapai batu kapur di bawah, sehingga air dapat terserap maksimal. Seperti di wilayah Jl DI Panjaitan, dan Kampus UNJ Rawamangun.

Tidak seperti di Kantor Kelurahan Kampung Rambutan, yang sumur resapan digali hanya seadanya, sehingga tidak efektif hasilnya. Terlebih, wilayah kantor kelurahan itu berada di posisi tinggi, sehingha hasilnya tidak maksimal.

“Sumur resapan yang dibangun tidak efektif ini jumlahnya banyak di Jakarta Timur, sehingga harus segera dievaluasi dan diperbaiki lagi,” kata dia.

Lebih lanjut kata Kusmanto, seluruh laporan aduan warga yang masuk kepadanya akan segera ditindak lanjuti. Hal ini sesuai arahan Bapak Pj Gubernur Heru Budi Hartono.”Kami akan tindak lanjuti laporan masyarakat ini,” tuturnya.

Warga Jaktim Lapor Anaknya Jadi Korban Bully di SDN 01 Kalisari

Sementara itu salah satu warga Jakarta Timur, Kinanti, melaporkan keluhan di posko pengaduan masyarakat DKI Jakarta terkait anaknya yang menjadi korban bully di SDN 01 Kalisari, Jakarta Timur, Selasa (25/10/2022).

Berdasarkan penuturan Kinanti, pihak sekolah SDN 01 Kalisari tidak mengakui adanya aksi perundungan.

Bahkan, akibat dari perundungan tersebut, anak Kinanti harus menjalani terapi psikologi lantaran takut pergi ke sekolah.

“Yang jelas dari pihak sekolah mau mengakui (adanya perundungan) ya bahwa memang anak kami adalah korban bully. Karena kan memang selama ini dari pihak sekolah mengarang cerita. Jadi seolah-olah korban adalah yang salah,” kata Kinanti di Pendopo Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (25/10/2022).

“Anak saya tuh korban pem-bully-an. Sampai saat ini anak saya itu masih menjalani terapi psikologi dan masih belum berani untuk ke sekolahnya. Sementara dari sekolah tidak ada kebijakan apa-apa,” lanjutnya.

Diketahui, anak dari Kinanti ini telah mengalami pem-bully-an sejak satu bulan yang lalu.

Dia dirundung secara verbal dan fisik. Bahkan, bagian kepala dari sang anak dipukul oleh temannya.

Pihak keluarga pun telah melakukan visum di kepolisian. Namun, hingga saat ini Kinanti selaku orang tua belum mendapatkan hasil visum, tetapi pihak sekolah telah menerima hasil visum terlebih dahulu.

“Dibully secara verbal dan fisik. Anak saya dipukuli di bagian kepala belakang. Kami sudah visum dan hasil visumnya kebetulan sampai saat ini kita tidak dikasih tahu oleh Polres Jakarta Timur. Tapi pihak sekolah sudah mengutarakan duluan. Jadi pihak sekolah lebih tahu duluan dibanding saya sebagai orang tuanya,” tutur Kinanti dengan mata berkaca-kaca.

Kinanti dan pihaknya mengaku telah melaporkan ke beberapa pihak yang terkait namun hingga saat ini belum mendapatkan hasil.

Sehingga, dia memutuskan datang ke posko pengaduan dengan harapan kasus ini bisa segera diselesaikan.

“Saya sudah melapor ke sekolah, ke dinas pendidikan, tapi belum ada tindakan apa-apa yang membuat kami sebagai korban itu merasa anak saya merasa yakin lagi untuk sekolah,” ujarnya.

Anak Kinanti yang masih kelas 5 SD ini masih harus menjalani terapi psikologi dengan rutin agar semangat dan keyakinannya pergi ke sekolah kembali normal.

Kendati dia bercerita, usai melaporkan keluhan tersebut kepada jajaran pegawai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kabarnya kasus ini akan segera ditindaklanjuti langsung. (dra/jek/tv1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *