JAKARTAPEDIA.co.id – Hujan yang tak kunjung reda meninggalkan jejak genangan di Rawa Buaya, Jakarta Barat. Sabtu (24/1/2026) siang itu, Masjid Jami Baiturrahman tak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga rumah sementara bagi warga yang terpaksa mengungsi akibat banjir.
Di lokasi inilah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung datang menengok langsung warganya yang terdampak.
Didampingi Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah, Pramono menyusuri area posko pengungsian. Begitu tiba, ia langsung disambut warga yang sejak pagi menanti kehadirannya. Satu per satu pengungsi disapa, tangan dijabat, keluh kesah didengar.
Di tengah keterbatasan, suasana haru terasa saat gubernur mengingatkan warga untuk tetap menjaga kesehatan selama berada di pengungsian.
Namun kunjungan itu tak hanya diisi sapaan dan empati. Dari lantai dua masjid, seorang warga tiba-tiba menyuarakan kegelisahan yang sudah lama terpendam.
Dengan suara lantang, ia meminta solusi konkret agar banjir tak berlarut-larut. “Pak Pram, Pak Pram, pompanya tambah lagi dong, Pak,” teriak warga tersebut.
“Pompanya Pak tambah lagi, biar banjir cepat surut.”
Seruan itu langsung mengalihkan perhatian Pramono Anung yang tengah bersalaman dengan warga lain. Ia menoleh, mengangguk, dan menjawab singkat namun tegas. “Ya, nanti ditambah.”
Jawaban sederhana itu sontak disambut sorak dan tepuk tangan warga. Di tengah genangan dan ketidakpastian, harapan seolah kembali menyala.
Usai berdialog dengan para pengungsi, Pramono melanjutkan peninjauan ke permukiman sekitar yang masih terendam. Di beberapa gang, air tampak menggenang setinggi 20 hingga 60 sentimeter.
Kondisi tersebut membuat aktivitas warga lumpuh dan memaksa sebagian dari mereka bertahan di pengungsian hingga air benar-benar surut.
Kunjungan ini menjadi pengingat bahwa di balik angka dan data banjir, ada suara warga yang menunggu untuk didengar—dan harapan sederhana agar air segera pergi dari halaman rumah mereka. (ig/ist)





