JAKARTAPEDIA.co.id – Pergantian tahun biasanya identik dengan gemerlap pesta dan kembang api. Namun bagi desainer tematik Migi Rihasalay, Tahun Baru 2026 justru disambut dalam suasana hening, penuh doa, dan refleksi. Bersama keluarga serta sahabat-sahabat terdekat, ia memilih merayakan momen pergantian tahun dengan kesederhanaan, jauh dari hiruk-pikuk perayaan.
Rangkaian perayaan digelar di dua lokasi yang memiliki makna personal bagi Migi dan suaminya, Andrew James. Satu berlangsung di Karimunjawa, gugusan pulau eksotis di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Sementara satu lagi digelar di Kampung Joglo, kawasan Pantai Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten—ruang kreatif yang dibangun dari kecintaan mereka pada seni dan warisan budaya Nusantara.
“Terima kasih kepada suami saya, Andrew James, keluarga, kerabat, dan teman-teman yang ikut berpartisipasi menyukseskan perayaan tahun baru ini,” ujar Migi Rihasalay kepada wartawan di Jakarta, Minggu (4/1/2026).
Bagi Migi, pelepasan tahun 2025 dan penyambutan 2026 kali ini terasa berbeda. Tidak ada pesta meriah, apalagi euforia berlebihan. Kesederhanaan justru menjadi pilihan, seiring duka yang tengah menyelimuti Tanah Air akibat bencana alam di sejumlah wilayah Sumatra.
“Ibu Pertiwi sedang berduka. Dalam perayaan ini kami lebih fokus pada doa untuk saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan daerah lainnya yang masih berjuang akibat musibah banjir bandang,” tutur Migi, yang dikenal sebagai perancang busana dengan lintas disiplin seni.
Nuansa khidmat terasa sejak awal acara. Perayaan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, dilanjutkan doa bersama, lalu prosesi menyalakan 1.000 lilin. Tidak ada kembang api atau pesta hingar-bingar—hanya hiburan sederhana yang menguatkan rasa kebersamaan dan empati.
“Ini bentuk belasungkawa kami. Tidak ada hura-hura, tidak ada foya-foya,” ucap Migi yang juga dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan.
Lilin dipilih bukan tanpa makna. Bagi Migi dan Andrew, nyala api kecil itu sarat simbol—kedamaian, keikhlasan, cahaya, harapan, dan kehidupan. “Kami ingin simbol ini memotivasi saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah agar tetap ikhlas dan punya harapan ke depan,” jelasnya, didampingi Andrew James, arsitek asal Australia ini.
Dua lokasi perayaan pun menyimpan cerita tersendiri. Karimunjawa menjadi tempat yang kerap dikunjungi Migi untuk berburu kayu joglo dari Jepara. Kayu-kayu jati pilihan itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pembangunan Kampung Joglo di Tanjung Lesung.
Selama delapan tahun, pasangan suami-istri ini mengumpulkan dan memindahkan material kayu dari Jepara ke Pandeglang, hingga berdirilah enam unit rumah joglo yang kini menjadi ruang kreatif seni sekaligus destinasi pelesiran bernuansa heritage.
Melalui Kampung Joglo, Migi dan Andrew berharap dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan nilai wisata dan pelestarian budaya di Kabupaten Pandeglang—sebuah karya yang lahir dari cinta pada seni, alam, dan Indonesia. (rls/jek)

