Tahukah Anda? Sering Berdiri Ternyata Dapat Turunkan Tekanan Darah, Tak Perlu Olahraga Berat

oleh -
Kebiasaan sederhana seperti lebih sering berdiri ternyata bisa berdampak positif bagi kesehatan jantung. (brs/ist)

JAKARTAPEDIA.co.id – Kebiasaan sederhana seperti lebih sering berdiri ternyata bisa berdampak positif bagi kesehatan jantung perempuan pascamenopause, menurut penelitian terbaru dari University of California San Diego.

Studi ini menemukan bahwa perempuan dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang lebih sering bangkit dari duduk setiap harinya menunjukkan perbaikan tekanan darah.

Temuan ini dipublikasikan di jurnal Circulation dan menunjukkan bahwa sering mengambil jeda singkat untuk berdiri, meski tanpa olahraga intens, bisa memberikan manfaat bagi kesehatan jantung.

“Pesan kesehatan masyarakat biasanya hanya menyuruh kita untuk mengurangi duduk, tapi tidak memberi tahu cara terbaik untuk melakukannya. Penelitian kami menunjukkan bahwa meskipun duduk lebih sedikit itu baik, bangkit berdiri secara berkala, meskipun durasi duduk tak banyak berubah, juga bisa membantu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan,” kata penulis utama studi ini, Dr Sheri Hartman, dari UC San Diego dikutip Eureka Alert, Rabu (6/8/2025).

Diketahui studi ini adalah uji coba terkontrol yang mengamati dua pendekatan dalam mengubah perilaku duduk pada perempuan pascamenopause dan melihat dampaknya terhadap tekanan darah dan kadar gula darah.

Perempuan pascamenopause ternyata menghabiskan banyak waktu dalam posisi duduk, yang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, kanker, dan kematian dini.

Para peneliti membagi peserta ke dalam tiga kelompok selama tiga bulan. Pertama, kelompok “duduk lebih sedikit” yang kemudian didorong untuk mengurangi waktu duduk harian.

Kedua, kelompok “bangkit berdiri” di mana mereka diminta untuk lebih sering berdiri dari posisi duduk. Ketiga, kelompok kontrol yang hanya mendapat saran umum soal kesehatan tanpa perubahan kebiasaan duduk.

Hasil studi menunjukkan bahwa tidak ada perubahan signifikan pada kadar gula darah di ketiga kelompok. Kelompok “duduk lebih sedikit” berhasil mengurangi waktu duduk sekitar 75 menit per hari dan mengalami sedikit perbaikan tekanan darah, namun tidak signifikan secara statistik.

Yang menarik, kelompok “bangkit berdiri” menambah rata-rata 25 kali berdiri dari duduk per hari, dan berhasil menurunkan tekanan darah diastolik sebesar 2,24 mmHg dibanding kelompok kontrol.

Meskipun penurunan ini belum mencapai ambang batas yang dianggap “bermakna klinis” (3-5 mmHg), hasil ini tetap menunjukkan bahwa hanya dalam tiga bulan, meningkatkan frekuensi berdiri bisa memberikan dampak nyata pada tekanan darah.

Para peneliti menduga bahwa perubahan lebih besar mungkin membutuhkan waktu lebih dari tiga bulan. Karena itu, mereka sedang mengajukan pendanaan untuk meneliti kebiasaan ini dalam jangka waktu lebih lama, termasuk pada pria lanjut usia.

“Yang paling menarik dari studi ini adalah perempuan peserta menetapkan sendiri targetnya dan berhasil mengubah kebiasaan duduknya. Dengan sedikit bimbingan, kita bisa belajar duduk lebih sedikit dan mendapat manfaat kesehatan nyata,” kata penulis senior Dr Andrea Z LaCroix yang dilansir dari beritasatu.com.

Menurutnya, strategi yang sederhana, realistis, dan sesuai dengan tujuan pribadi seperti “bangkit berdiri 25 kali tambahan per hari” (sekitar 2 kali per jam selama 12 jam) adalah hal yang bisa dilakukan oleh banyak orang.

Penelitian ini melibatkan tim dari berbagai institusi, termasuk UC San Diego, Arizona State University, dan institusi di Australia. Studi ini didanai oleh National Institutes of Health (NIH) melalui National Institute on Aging, serta dukungan dari UC San Diego Altman Clinical and Translational Research Institute. (ist/brs)

“Anda Ingin Kerjasama Publikasi Artikel/Berita Promosi Biayanya Hanya Rp 200.000, Silahkan WA ke 0877-6460-1861″