Segala permasalahan yang dihadapi keluarga Kurniawan berakar pada pola pengasuhan yang diturunkan dari orang tua dengan gangguan kepribadian narsistik atau narcissistic personality disorder (NPD).
Arogansi Kasih yang belum selesai dengan dirinya sendiri, membuat Ombak, sering kali dipandang sebagai objek yang semestinya memantulkan kehebatan dan kesuksesan orang tua, bukan sebagai individu dengan kebutuhan dan perasaan yang unik.
Ketika Ombak gagal atau tidak memenuhi ekspektasi, remaja itu cenderung diabaikan, direndahkan, atau bahkan disalahkan.
Pola sikap dan perilaku dari orang tuanya itu sangat merusak perkembangan emosional Ombak, karena ia belajar bahwa cinta dan penerimaan dari ibunya mungkin saja “bersyarat”.
Restu pun terkesan seperti mencari pembenaran untuk diri sendiri, alih-alih menunjukkan empati dan mendengarkan perasaan putranya setiap kali Ombak dan Kasih bertengkar.
Akibatnya, setiap upaya Restu untuk menjalin kembali keutuhan keluarganya dirasakan hampa dan tidak bermakna oleh Ombak.
Lebih parahnya lagi, Kasih justru memperburuk situasi dengan sikap abai dan dingin yang ditunjukkannya kepada Ombak, seolah-olah ia tidak peduli dengan penderitaan batin anaknya.
Suatu kali, Restu memberikan saran kepada Ombak untuk mencari bantuan profesional dengan mendatangi psikolog kenalannya, Nana, yang diperankan dengan sentuhan komedi yang cerdas oleh aktris Asri Welas.
Namun, upaya itu tidak mendapatkan dukungan dari Kasih. Ia bersikap acuh tak acuh dan berpendapat bahwa anaknya hanya membutuhkan pertolongan spiritual dari Yang Maha Pencipta dengan memperbanyak ibadah.
Di tengah dukungan dari keluarga dan bantuan profesional dari psikolog Nana yang disfungsional, Ombak berupaya mencari dukungan dari lingkaran pertemanannya di sekolah.
Upaya itu berujung pada pengalaman yang buruk, bahkan membuatnya nyaris melakukan tindakan yang brutal dan membahayakan diri sendiri.
Awalnya, memang Ombak sempat mengalami perubahan signifikan sejak ia mulai menjalin kedekatan dengan Aleiqa, seorang gadis satu kelasnya yang diperankan dengan kehangatan oleh aktris Tissa Biani.
Dari Aleiqa, Ombak menemukan obrolan santai yang mampu mengalihkan bebannya sejenak, dan yang lebih penting, ia merasakan dukungan tulus dan penerimaan tanpa syarat.
Diskusi-diskusi Ombak dengan Aleiqa tentang pilihan untuk bahagia dan pentingnya menerima diri sendiri apa adanya menjadi momen-momen kecil namun krusial.
Namun perhatian tulus dari temannya itu belumlah cukup bagi Ombak, karena keluarganya sendiri masih belum menjadi jangkar yang menahannya untuk tidak tenggelam lebih dalam di tengah lautan kesulitan yang terus menyeret perasaannya.
Makna Mendalam
“Mungkin Kita Perlu Waktu,” sebuah judul yang tampak sederhana, namun menyimpan makna yang sangat dalam.
Kesederhanaan justru menjadi kekuatan narasi film, karena di dalamnya terkandung potensi untuk menyampaikan kisah yang kuat dan menggugah tentang perjalanan panjang menuju penyembuhan, pemahaman, dan rekonsiliasi.
Narasi yang dibangun Teddy Soeriaatmadja tidak hanya bertumpu pada durasi film yang berjalan sekitar 95 menit, melainkan pada kedalaman emosional dan psikologis dari setiap karakter dan situasi yang dihadirkan.

