Pasca tragedi kecelakaan yang mengambil nyawa Sarah, Ombak menarik diri ke dalam cangkang kesedihan dan kemurungan.
Pergulatan batinnya tidak hanya dipicu oleh rasa kehilangan yang mendalam, tetapi juga oleh kecemasan dan kekecewaan yang merayap dalam hatinya.
Ia merasa seakan-akan dipersalahkan oleh orang tuanya atas kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang kakak. Sebab saat kecelakaan itu terjadi, Ombak yang mengemudi.
Beban psikologis Ombak semakin berat dengan komunikasi yang tidak sehat dalam keluarga, di mana bukannya mendapatkan dukungan dan validasi, Ombak justru merasa terisolasi dan disalahkan.
Di sisi lain, terdapat tokoh Kasih, yang diperankan oleh aktris Sha Ine Febriyanti. Sebagai seorang ibu yang baru saja kehilangan putrinya, Kasih juga menyimpan pergolakan batin yang hebat.
Namun, alih-alih menghadapinya secara konstruktif, ia memilih untuk menyembunyikan luka-lukanya dengan cara yang tidak sehat, memancarkan kesan apatis dan dingin.
Sikapnya itu bukan hanya gagal memberikan dukungan emosional bagi Ombak, tetapi justru memperburuk jurang komunikasi di antara mereka.
Dalam upaya mencari pelarian dari gejolak emosi yang membuncah, perjalanan umroh ke tanah suci menjadi pilihan. Menurut Restu, perjalanan spiritual itu diharapkan oleh Kasih menjadi jalan keluar.
Tapi bagi Kasih, perjalanan umroh justru menjadi upaya mengembalikan ketenangan yang hilang akibat gangguan narsistik yang dimiliki sang suami.
Perbedaan pandangan sederhana ini mengakibatkan keretakan dalam pernikahannya dengan Restu. Puncak dari ketegangan itu ialah keinginan untuk berpisah di akhir cerita.
Namun, perpisahan suami-istri itu menjadi sebuah pengakuan yang jujur dari Kasih bahwa ia memang membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk memulihkan luka batinnya, sebuah proses yang mungkin tidak lagi dapat ia jalani bersama dengan Restu dalam ikatan pernikahan.

