Sedangkan Kepala Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok mengatakan, meski kebutuhan meningkat tapi dia memastikan ketersediaannya di Jakarta dalam kondisi aman.
Dia menyatakan, stok yang tersedia disebut jauh melampaui kebutuhan bulanan masyarakat.
“Ketersediaan beras pada Maret diperkirakan masih dalam kondisi cukup, bahkan melampaui kebutuhan bulanan. Jadi secara umum untuk komoditas strategis masih aman,” jelasnya.
Dari sisi harga, fluktuasi tercatat terjadi antarbulan, khususnya pada bawang putih, daging sapi murni, dan gula pasir yang mengalami kenaikan dari Januari ke Februari.
Sementara itu, harga komoditas hortikultura seperti cabai rawit merah, cabai merah keriting, dan cabai merah besar justru mengalami penurunan cukup signifikan.
Hasudungan menekankan, komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang menjadi perhatian khusus karena tingkat kerentanannya tinggi. Produk tersebut tidak dapat disimpan lama dan mudah rusak, sehingga fluktuasi pasokan sangat memengaruhi harga di pasaran.
“Komoditas hortikultura ini rentan karena tidak bisa disimpan dalam jangka panjang. Sedikit gangguan distribusi saja bisa berdampak pada harga dan inflasi daerah,” imbuhnya.
Untuk komoditas pabrikan seperti minyak goreng dan gula pasir, tren harga dinilai relatif terkendali.
Harga minyak goreng yang sempat mencapai titik tertinggi pada Oktober 2025 kini cenderung melandai.
Sementara harga daging sapi, ayam potong, dan telur ayam juga menunjukkan tren stabil seiring pengendalian dari pemerintah pusat dan daerah.
Seluruh proyeksi kebutuhan dan ketersediaan pangan tersebut disusun berdasarkan asumsi jumlah penduduk, tingkat konsumsi per kapita rumah tangga dan nonrumah tangga, serta koefisien peningkatan kebutuhan dari Badan Pangan Nasional dengan dukungan data BUMD pangan.
Pemprov DKI melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan pemantauan rutin terhadap stok dan perkembangan harga, guna memastikan lonjakan kebutuhan selama Ramadan dan Idulfitri tidak memicu gejolak harga maupun gangguan pasokan.
“Dengan proyeksi kenaikan konsumsi yang telah diantisipasi sejak awal, Pemprov DKI optimistis stabilitas pasokan dan harga pangan di Jakarta dapat tetap terjaga selama periode hari besar keagamaan,” jelasnya. (ig)





