Sementara menjelang Idulfitri, lonjakan diperkirakan lebih tinggi. Telur ayam meningkat 17,20 persen dan daging ayam 10,77 persen, diikuti sejumlah komoditas lain seperti bawang merah dan minyak goreng.
Meski demikian, Uus memastikan stok daging sapi aman hingga Idulfitri. Hal itu berdasarkan laporan Asisten Perekonomian dan Keuangan kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
“Untuk stok daging sapi, insyaallah aman. Ketersediaannya diperkirakan cukup sampai selesai Idulfitri,” katanya.
Perumda Dharma Jaya sebagai BUMD yang mendapat penugasan di sektor daging dan protein hewani melaporkan ketersediaan daging sapi sebanyak 1.246 ton, daging ayam 435 ton, ikan kembung 547 ton, serta ternak sapi hidup sebanyak 1.010 ekor.
“Ini menjadi gambaran bahwa Pemprov Jakarta terus menjaga kestabilan kebutuhan daging agar tetap terpenuhi bagi warga,” ujar Uus.
Kepala Dinas KPKP Provinsi DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menambahkan, kebutuhan telur ayam diproyeksikan meningkat signifikan memasuki masa Idulfitri, dari 8.409 ton di hari normal akan naik 7,5 persen menjadi 9.944 ton saat bulan Ramadan.
Begitu juga saat Idulfitri 2026 akan naik 17,20 persen dari 9.010 ton menjadi 10.560 ton bulan Februari.
Sementara kebutuhan daging sapi relatif stabil dari Februari ke Maret dengan kenaikan di kisaran 3,5 persen sampai 8,6 persen, namun tetap menjadi komoditas strategis yang harus dijaga ketersediaannya.
Selain itu, daging ayam juga tercatat sebagai komoditas dengan kenaikan kebutuhan terbesar menjelang Ramadan.
Dalam menjalankan penugasan tersebut, Dharma Jaya memastikan ketersediaan stok di gudang serta kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk fasilitas cold storage dan rumah potong hewan (RPH).
Saat ini, terdapat sekitar sembilan RPH yang dikelola Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjamin rantai pasok daging tetap aman dan memenuhi standar keamanan pangan.

