KPMI Gelar Diskusi Pengelolaan Air Minum di Jakarta, Berikut Pernyataan Para Narasumber

oleh -
Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (KPMI), menggelar diskusi pengelolaan air minum di Jakarta di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (19/3/2025) sore. (ist)

JAKARTAPEDIA| DKI JAKARTA – Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (KPMI), menggelar diskusi pengelolaan air minum di Jakarta di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (19/3/2025) sore.

Dalam diskusi yang mengangkat tema ‘Benarkah Jakarta Krisi Air Bersih/Minum?’ itu mendapatkan perhatian dari sejumlah pemerhati dan aktivis turut hadir dalam acara tersebut.

Direktur Eksekutif Komunitas Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (KPMI), Andi Wijaya atau akrab disapa Adjie Rimbawan menyampaikan, tema yang diangkat merupakan bentuk dukungan moril kepada PAM Jaya untuk memastikan warga Jakarta dapat mengakses layanan air bersih atau minum dengan mudah dan berkualitas.

“Kami sangat mendukung PAM Jaya mengoptimalkan jaringan perpipaan untuk memenuhi kebutuhan air bersih/minum warga,” kata Adjie.

Adjie memaparkan, hingga saat ini masih ada warga Jakarta, terutama di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara yang masih sulit untuk mendapatkan akses layanan air bersih.

“Untuk itu diskusi ini digelar untuk mendapatkan informasi lebih mendetail dan tanggapan dari sejumlah narasumber yang hadir kali ini,” katanya mengawali diskusi.

Seperti pernyataan Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta (Katar), Sugiyanto yang mengapresiasi kinerja Perumda PAM Jaya semakin baik di bawah kepemimpinan Arief Nasrudin sebagai Direktur Utama.

Apalagi sejak hubungan kerja sama dengan PT Aetra dan Palyja dihentikan pada 2023 lalu.

“Saya mendapatkan informasi bahwa sebelumnya PAM Jaya selalu merugi, tapi sejak Pak Arief menjabat bisa mendapatkan untung hingga Rp 1,2 triliun,” kata pria yang akrab disapa SGY ini dikenal vokal dalam mengkritisi kebijakan dan pembangunan di DKI Jakarta.

SGY mengatakan optimistis, Perumda PAM Jaya akan dapat menuntaskan target cakupan layanan 100 persen pada tahun 2030 mendatang. Dimana, target ini telah menjadi rencana strategis Pemerintah DKI Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *