JAKARTAPEDIA.co.id – Tumpukan sampah menjadi persoalan yang tak pernah benar-benar jauh dari kehidupan warga Jakarta. Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan dari rumah tangga, perkantoran, pusat perdagangan hingga berbagai aktivitas masyarakat di Ibu Kota.
Di tengah tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya mengubah cara pandang dalam mengelola sampah. Bukan lagi sekadar mengangkut sampah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan memilah, mengolah, dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, penanganan persoalan sampah membutuhkan kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan persoalan tersebut seorang diri.
Hal itu disampaikan Pramono saat menjadi keynote speaker dalam Local Hero Indonesia Forum 2026 di Grha Ali Sadikin, Balai Kota DKI Jakarta, Senin (31/8/2026).
Pramono mengungkapkan, produksi sampah Jakarta saat ini mencapai lebih dari 9.000 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sampah organik mendominasi dengan proporsi 49,87 persen, disusul sampah plastik sebesar 22,95 persen.
Besarnya volume sampah tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Jakarta, terlebih sejak 1 Agustus 2026, sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang hanya berupa residu.
“Inilah yang menjadi problem kita dan seperti kita ketahui bersama bahwa sejak tanggal 1 Agustus kemarin, Jakarta hanya bisa mengirim residunya ke Bantargebang,” ujar Pramono.
Perubahan pola pengelolaan pun mulai didorong. Jika sebelumnya sampah lebih banyak menggunakan pola angkut-buang, kini Jakarta bergerak menuju sistem pilah-angkut-olah.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Sejak diterbitkannya Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026, volume sampah yang dikirim ke Bantargebang disebut turun lebih dari 500 ton per hari.
Gerakan memilah sampah dari rumah juga semakin meluas. Sejak dicanangkan pada 10 Mei 2026, persentase rumah tangga yang memilah sampah meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen.
Bagi Pramono, angka tersebut menunjukkan adanya perubahan perilaku di tengah masyarakat. Namun, gerakan itu tidak boleh berhenti sebagai kampanye sesaat.
“Kontinuitas dan keseriusan menjadi kunci,” tegasnya.
Pengelolaan sampah organik juga mulai mendapat perhatian lebih besar. Dari sekitar 2.247 bank sampah yang ada, pengelolaan sampah organik meningkat dari 1.046 ton menjadi 1.432 ton.
Jakarta pun terus memperkuat infrastrukturnya. Sejumlah fasilitas pengolahan sampah telah tersedia, antara lain RDF Plant Rorotan dan TPS 3R. Pemerintah juga menyiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di tiga lokasi.
Namun, pembangunan fasilitas saja dinilai belum cukup.
Pramono membuka ruang lebih luas bagi pihak swasta untuk terlibat dalam pengelolaan sampah. Menurut dia, persoalan sampah Jakarta memiliki skala yang terlalu besar apabila hanya dibebankan kepada pemerintah.
“Karena untuk menyelesaikan persoalan sampah tidak bisa sendirian,” ucapnya.
Dari Gerakan Kecil Menjadi Kolaborasi
Semangat kolaborasi juga menjadi napas dalam Local Hero Indonesia Forum 2026. Forum yang mengusung tema “From Campaign to Collaboration: Strengthening Multi-Stakeholder Partnership for Sustainable Waste Management” tersebut mempertemukan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap persoalan lingkungan.
Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute, Firdaus Ali, mengatakan pihaknya membawa kampanye “Merdeka dari Sampah” melalui Local Hero Recycle Challenge.
Gerakan tersebut berangkat dari hal sederhana: mengajak masyarakat mulai mengelola sampah dari rumah.
Sampah yang selama ini dianggap tidak berguna didorong untuk digunakan kembali atau didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomi.
“Salah satunya dengan menggunakan kembali dan mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai tetapi masih punya nilai ekonomi,” jelas Firdaus.
Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah karya yang masuk dalam Local Hero Recycle Challenge. Sebanyak 191 karya dari berbagai daerah ikut berpartisipasi.
Pesertanya pun beragam, mulai dari pelajar, guru, ibu rumah tangga, komunitas RT dan RW, hingga pelaku usaha kecil.
Bagi Firdaus, keberagaman peserta menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya datang dari kelompok tertentu. Masyarakat sebenarnya memiliki kemauan untuk bergerak ketika diberikan ruang dan kesempatan.
“Dari kegiatan ini kita melihat bahwa masyarakat sebenarnya mau bergerak dan melakukan sesuatu untuk lingkungan kita,” ujarnya.
Kini, tantangannya adalah membawa berbagai aksi kecil tersebut menjadi gerakan yang lebih besar dan berkelanjutan.
Forum ini diharapkan tidak berhenti pada kampanye atau kompetisi, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah, komunitas, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat agar dapat membangun kerja sama dalam pengelolaan sampah.
Sebab, perubahan perilaku tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari rumah, dari satu orang yang mulai memilah sampah, kemudian diikuti keluarga, lingkungan RT dan RW, hingga akhirnya menjadi gerakan bersama.
Firdaus pun mengapresiasi para local hero yang telah mengambil peran tersebut.
“Melalui forum ini, kita ingin membawa aksi tersebut lebih jauh dengan mempertemukan berbagai pihak untuk mendorong kerja sama yang bisa terus dilanjutkan,” tandasnya. (bj/jek)





