Komisi B Dorong Wajah Baru Pasar Jakarta, dari Ruang Transaksi ke Pusat Budaya

oleh -
Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto. (ist)

JAKARTAPEDIA.co.id – Riuh tawar-menawar yang selama ini menjadi napas pasar tradisional di Jakarta diharapkan segera bertransformasi. Bukan lagi sekadar tempat jual beli, pasar-pasar ibu kota ditargetkan menjelma menjadi ruang ekonomi sekaligus pusat budaya dan destinasi wisata berkelas dunia.

Dukungan itu datang dari Wakil Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta, Wahyu Dewanto. Ia menilai rencana Gubernur untuk mentransformasi 153 pasar di Jakarta merupakan langkah strategis dalam memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global.

Menurut Wahyu, gagasan tersebut layak mendapat dukungan luas. Pasar, kata dia, memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi simpul kegiatan sosial dan budaya, bukan hanya ruang transaksi ekonomi semata.

Namun, ia mengingatkan, jalan menuju transformasi tidaklah mudah. Pekerjaan rumah yang harus diselesaikan mencakup banyak aspek, mulai dari pembenahan infrastruktur fisik, pemberantasan premanisme, percepatan digitalisasi transaksi non-tunai, hingga penyediaan akses transportasi publik yang memadai.

“Transformasi ini membutuhkan keseriusan dan waktu yang tidak singkat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pembenahan pasar bukan hanya urusan satu lembaga. Banyak pemangku kepentingan harus terlibat, baik dari internal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta maupun pihak eksternal. Tanpa kolaborasi kuat, program besar ini berisiko tersendat di tengah jalan.

Meski tantangannya besar, Wahyu memandang langkah ini sangat strategis karena dampaknya akan langsung terasa pada perekonomian kota dan kesejahteraan warga.

Jika berhasil, wajah Jakarta pun diyakini akan semakin modern dan tertata.

Komisi B, lanjutnya, siap berada di garis depan untuk mendukung sekaligus mengawasi jalannya transformasi agar tetap konsisten dan berkelanjutan. Ia menegaskan pentingnya tahapan yang rapi—mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi berkala.

Dengan sebaran 153 pasar di hampir seluruh wilayah Jakarta, Wahyu menyarankan Pemprov memulai dari beberapa titik strategis sebagai proyek percontohan atau quick win.

Langkah awal ini dinilai penting untuk menguji pola pengelolaan dan memastikan seluruh pihak bergerak menuju tujuan yang sama.

Ia juga mengingatkan, transformasi tidak bisa hanya bertumpu pada Perumda Pasar Jaya. Meski begitu, BUMD tersebut tetap dituntut memperkuat tata kelola internal sebagai bukti keseriusan mendukung perubahan besar ini.

Di tengah optimisme tersebut, Wahyu percaya kunci keberhasilan terletak pada komitmen bersama. Bila semua pihak bergerak seirama, pasar-pasar Jakarta bukan mustahil akan bertransformasi menjadi ruang ekonomi modern yang tetap berakar pada denyut budaya lokal. (pede)